
Makassar, 11 November 2025
Momentum bersejarah tercipta di Aula Prof. Syukur Abdullah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Lima putra terbaik Kabupaten Berau resmi menyandang gelar Doktor Antropologi, menandai babak baru kiprah intelektual anak daerah yang berakar kuat pada tanah kelahirannya namun berpikir melintasi batas.
Kelima doktor tersebut adalah Dr. M. Ichsan Rapi, ST., MT., Dr. Rahmatullah, ST., MT., Dr. Mupit Datusahlan, S.Si., M.Sc., Dr. Ichwanul Jaya, ST., M.Si., dan Dr. Djufri, ST., M.S.P. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh semangat yang sama: menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian bagi masyarakat.
Sidang yudisium berlangsung khidmat dan penuh haru, dipimpin oleh Dekan FISIP Unhas, Prof. Phil. Sukri, S.IP., M.Si., serta mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Program Studi Doktor Antropologi, Dr. Muhammad Basir, M.A.
“Kami bangga sekaligus terharu. Kelima promovendus ini bukan hanya menuntaskan studi, tetapi telah menunjukkan bagaimana ilmu antropologi dapat menjadi instrumen perubahan sosial yang nyata di tengah masyarakat,”
— Dr. Basir, M.A., Kepala Prodi Doktor Antropologi Unhas.
Para doktor ini bukan sekadar akademisi, melainkan praktisi yang memahami denyut kehidupan masyarakat dari akar rumput. Mereka datang dari profesi beragam — pemerintahan, teknik, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan — namun bertemu dalam satu ruang gagasan: antropologi sebagai cermin kemanusiaan dan perubahan sosial.
Salah satu lulusan, Dr. Mupit Datusahlan, meneliti kepemimpinan desa dan transformasi sosial berbasis nilai lokal, membumikan ilmu dengan empati dan refleksi diri.
Sementara itu, Dr. Ichwanul Jaya memadukan analisis teknologi dan antropologi untuk membaca perubahan perilaku sosial di masyarakat industri.
Dr. Rahmatullah menyoroti praktik corporate social responsibility di kawasan pertambangan, sedangkan Dr. M. Ichsan Rapi menelusuri relasi antara pengetahuan teknis dan nilai budaya dalam pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, Dr. Djufri memadukan perspektif kebijakan publik dengan pendekatan sosial-kultural yang membumi.
Momentum ini menjadi simbol bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik ruang akademik, tetapi juga milik masyarakat yang ingin maju tanpa kehilangan akar budayanya.
“Semoga para doktor ini menjadi teladan baru bagi daerahnya. Kita tidak kekurangan orang cerdas, tapi kita butuh orang berilmu yang rendah hati dan berpihak pada kemaslahatan umat,”
— Prof. Phil. Sukri, Dekan FISIP Unhas.
Wajah-wajah bahagia terpancar di ruang sidang. Ada rasa lega, bangga, dan syukur yang sulit disembunyikan. Kelimanya kini bukan hanya menyandang gelar akademik tertinggi, tetapi juga membawa tanggung jawab moral: menjadikan ilmu antropologi sebagai obor kemanusiaan.
Di tengah riuh tepuk tangan dan ucapan selamat dari sivitas akademika, satu pesan sederhana namun mendalam bergema:
“Ilmu setinggi apa pun, bila tidak membawa manfaat bagi manusia, hanyalah tumpukan kata tanpa makna.”
Hari itu, dari Makassar, lima putra Berau membuktikan — ilmu bisa lahir dari tanah yang jauh, tetapi cahaya pengabdiannya akan selalu kembali ke kampung halaman.
✨ Selamat kepada para doktor baru dari Berau. Langkah kalian bukan akhir, melainkan awal dari babak pengabdian yang lebih besar.




