Aktualkaltim,Makassar — Di balik jas merah yang dikenakannya dengan gagah, tersimpan kisah tentang tekad, pengorbanan, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan.
Namanya Djufri, dosen Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Berau, yang baru saja menapaki salah satu puncak tertinggi dalam dunia akademik: menyelesaikan sidang hasil penelitian doktoral di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Di kampus FISIP Unhas yang megah dan sarat sejarah, Djufri hadir bukan sekadar sebagai mahasiswa pascasarjana, melainkan simbol ketekunan anak daerah yang membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tanah kecil di ujung Kalimantan Timur.
“Saya datang ke Makassar bukan sekadar mengejar gelar, tapi untuk membawa nama Berau di peta akademik nasional,” ujarnya lirih namun tegas, usai sidang hasil yang berlangsung khidmat.
Perjalanan menuju titik ini tak mudah. Djufri melewati hari-hari panjang yang sunyi meninggalkan rutinitas mengajar, rekan kerja, dan keluarga. Ia menanggung rasa bersalah karena jarang pulang, namun tetap teguh menjalani proses. Baginya, setiap data yang dikumpulkan, setiap analisis yang ditulis, dan setiap revisi yang diperjuangkan adalah bagian dari ikhtiar untuk mengabdi melalui ilmu.
Dalam penelitian doktoralnya di bidang antropologi, Djufri memadukan dua ranah ilmu: sosial dan perencanaan wilayah. Ia menelusuri bagaimana manusia membangun ruang hidupnya bukan hanya melalui beton dan tata kota, tetapi juga melalui nilai, budaya, dan memori kolektif.
Pendekatan ini jarang disentuh, bahkan oleh akademisi di kota besar.
“Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tentang rasa memiliki dan relasi manusia dengan lingkungannya,” tutur Djufri.
Sidang hasil yang dijalaninya menjadi momen penting, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi Universitas Muhammadiyah Berau. Kampus muda di pesisir timur Kalimantan itu kini mulai menorehkan nama di peta pendidikan tinggi nasional lewat kiprah para dosennya.
Bagi rekan-rekan sejawatnya, capaian Djufri membuktikan bahwa perguruan tinggi di daerah tak kekurangan talenta yang dibutuhkan hanyalah ruang dan kesempatan.
Dengan segala keterbatasan, Djufri justru menjadikannya bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.
Selama studi doktoral, ia menjalani hidup dalam ritme yang penuh tantangan. Kadang menulis disertasi sambil bekerja, kadang harus berhenti mengajar untuk fokus riset. Ia berulang kali menempuh perjalanan panjang dari Berau ke Makassar, semata-mata demi menuntaskan amanah akademik dengan penuh kehormatan.
Kini, setelah melewati tahap sidang hasil dengan baik, Djufri menyimpan tekad yang lebih besar: mengembalikan ilmu ke tanah kelahiran, membangun perencanaan wilayah berbasis budaya lokal, dan menumbuhkan paradigma pembangunan yang tidak hanya menata kota, tetapi juga menata kehidupan masyarakatnya.
Universitas Muhammadiyah Berau patut berbangga. Sosok Djufri menjadi representasi dosen daerah yang berani keluar dari zona nyaman, menantang diri, menembus batas, dan membuktikan bahwa ilmu bukan milik kota besar saja, melainkan milik siapa pun yang mau berjuang.
Hujan rintik di Makassar siang itu terasa seperti berkah. Di tengah hiruk pikuk kampus, satu hal menjadi jelas:
perjalanan Djufri belum berakhir ia baru memulai babak baru, di mana ilmu dan pengabdian berjalan beriringan, membawa nama Berau terukir di peta intelektual Indonesia.










