DPRD Kaltim Soroti Kebakaran RSUD AWS Samarinda, Minta Audit Anggaran Pemeliharaan

 

 

 

 

 

Aktualkaltim.com, Samarinda – Kebakaran yang melanda Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda pada Rabu (30/7/2025) dini hari, memicu perhatian serius dari Komisi II DPRD Kalimantan Timur.

Insiden ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait standar perawatan dan mitigasi bencana di fasilitas kesehatan milik pemerintah tersebut.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sapto Setyo Pramono, menegaskan pentingnya investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran.

Ia bahkan secara spesifik menyoroti kondisi gedung, apakah kebakaran terjadi di gedung baru atau gedung lama.

“Yang pertama, kebakaran itu ditimbulkan dari apa dulu harus diselidiki. Kedua, itu di gedung baru atau gedung lama?” tegas Sapto, jum’at (1/8/2025).

Jika insiden terjadi di gedung lama, Sapto mempertanyakan efektivitas perawatan dan mitigasi bencana yang selama ini diterapkan.

Ia secara gamblang menyoroti keberadaan dan fungsi fasilitas keamanan seperti alarm dan detektor asap. Apakah perangkat tersebut telah di-upgrade atau dirawat dengan baik.

“Kalau itu tidak dijalankan dengan baik, berarti rumah sakit itu perlu tanda tanya. Siapa yang di bawahnya? Kewenangan siapa?” imbuhnya, mengindikasikan adanya potensi kelalaian.

Sebagai anggota Komisi II yang membidangi masalah keuangan, Sapto berencana memanggil seluruh rumah sakit pemerintah provinsi, khususnya yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Pemanggilan ini bertujuan untuk mengaudit anggaran pemeliharaan.

“Jangan-jangan maintenance ada biayanya tapi tidak dijalankan dengan baik,” ujarnya penuh kekhawatiran.

Ia khawatir dana yang seharusnya dialokasikan untuk pemeliharaan fasilitas justru tidak tepat sasaran, padahal hal tersebut berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Sapto juga secara tegas menolak jika nantinya penyebab kebakaran hanya disebut karena korsleting listrik tanpa penjelasan lebih lanjut.

Menurutnya, alasan tersebut mengindikasikan adanya keteledoran dan kelalaian dalam manajemen fasilitas.

“Saya juga orang K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), paham tentang ini,” kata Sapto, menekankan latar belakangnya sebagai teknisi yang memahami identifikasi dan mitigasi risiko bencana, khususnya kebakaran.

Ia pun meminta agar setiap pernyataan terkait penyebab kebakaran harus didasarkan pada keilmuan dan fakta, bukan sekadar asumsi.

“Mohon maaf, kalau berstatement harus berdasarkan keilmuan ya, bukan asal menyampaikan,” pungkasnya.

(Ak/Lan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *