
M. Haiqal Putra I. (Mahasiswa HI, UNMUL)
Di banyak kampus dan komunitas, organisasi kerap menjadi rumah kedua bagi para anggotanya. Di sanalah mereka belajar kepemimpinan, berjejaring, hingga menemukan ruang aktualisasi diri. Namun, tidak sedikit yang justru merasakan dinamika pahit ketika organisasi berubah menjadi arena persaingan yang penuh sentimen.
Rivalitas yang semestinya sehat kadang bergeser menjadi saling menjatuhkan. Labelisasi negatif terhadap organisasi lain, perebutan pengaruh, hingga sikap eksklusif kerap menciptakan jarak.
Fenomena ini memunculkan apa yang disebut demotivasi berorganisasi. Anggota kehilangan semangat, merasa kontribusinya tidak dihargai, atau sekadar jenuh dengan konflik yang tak kunjung selesai. Akibatnya, partisipasi menurun, program kerja berjalan seadanya, bahkan regenerasi kader terancam.
Situasi ini bisa dicegah. Kuncinya ada pada komunikasi terbuka, penghargaan terhadap setiap kontribusi, serta keberanian membangun kolaborasi lintas organisasi. Organisasi bukanlah tempat untuk bersaing siapa yang paling kuat, melainkan wadah untuk tumbuh bersama.
Meski kerap diwarnai gesekan, organisasi tetaplah ruang penting bagi pembelajaran sosial dan kepemimpinan. Dengan manajemen konflik yang sehat dan semangat kolaboratif, organisasi bisa kembali pada hakikatnya menjadi tempat bertumbuh, bukan sekadar bertahan.










